Sejarah Tahun Baru Masehi


Roman kalenderKABARKAMI. Malam pergantian tahun baru masehi umumnya sangat ditunggu-tunggu oleh semua kalangan. Semua orang di berbagai belahan bumi spontan menjadi sangat sibuk menanti-nantikan malam pergantian tahun tersebut. Pergantian tahun masehi 2012 ke tahun 2013 yang dipenuhi berbagai pendapat kontroversial terutama isu berakhirnya dunia dan berbagai macam bencana sosial kini memuai oleh euphoria massal. Manusia sepertinya makin girang, kiamat dunia tidak jadi..

Sudah menjadi tradisi global dimana perayaan tahun baru masehi ini, sebagian besar orang seakan dituntut untuk merayakannya dengan menyalakan kembang api, meniup terompet, kumpul di pusat kota dan bergembira ria.

Di kota Makassar, persiapan menyambut tahun baru masehi ini sudah menjadi tradisi ketika masyarakat dari berbagai daerah bahkan pelosok berbondong-bondong menyerbu pusat kota untuk mendatangi pusat hiburan yang bertebaran dimana-mana. Semua hotel, restauran dan pusat keramaian ditata gemerlap dengan desain mewah. Para pedagang kelas menengah ke bawah memenuhi jalan-jalan berlomba menjual berbagai jenis kembang api dan petasan. Ironisnya, dari sebuah sumber media disebutkan bahwa kondom juga laku keras.

Begitu sesaknya pengaruh “urban” tradisi merayakan tahun baru masehi ala Romawi mencekik dunia global saat ini. Dilansir di kencew.blogspot.com, mengurai sejarah tahun masehi ini yaitu dimulai sejak abad ke-7 SM ketika bangsa Romawi kuno telah memiliki kalender tradisional. Namun kalender ini sangat kacau dan mengalami beberapa kali perubahan. Sistem kalendar ini dibuat berdasarkan pengamatan terhadap munculnya bulan dan matahari. Sebelumnya awal tahun masehi selalu dimulai bulan Maret(martius) karena 1 Januari jatuh pada puncak musim dingin. Di saat itu biasanya pemilihan konsul diadakan, karena semua aktivitas umumnya libur. Di bulan Februari konsul yang terpilih dapat diberkati dalam upacara menyambut musim semi yang artinya menyambut hal yang baru. Sejak saat itu Tahun Baru orang Romawi tidak lagi dirayakan pada 1 Maret, tapi pada 1 Januari. Tahun Baru masehi pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 SM

Sejak mengalami revisi dari jaman kaisar Julius Caesar maka orang Romawi mentradisikan perayaan Tahun Barunya dengan cara saling memberikan hadiah potongan dahan pohon suci dan menggelar pesta-pesta. Melalui penyatuan sistem dengan kalender Gregorian, sistem tahun masehi kemudian diberlakukan di seluruh Eropa pada tahun 1582 masehi. Sistem penanggalan dunia pun secara perlahan akhirnya mengikuti pola dan tradisi bangsa Romawi itu. Tradisi seperti itulah yang kita alami sekarang, gemerlap pesta, mabuk-mabukan, hujan hadiah, gempita suara-suara keras, bahkan sampai acara bakar-bakar ikan di halaman rumah yang diringi musik elekton. Dan entah berdasarkan dalil darimana, tradisi ini berkembang dengan saling memaafkan dan mendoakan.

Melihat antusias masyarakat kita yang begitu histeria menyambut tahun baru “masehi” selama ini, mungkin terkesan sinis namun logika memastikan bahwa kita sebenarnya sudah nikmat menelan mentah-mentah tradisi kuno bangsa Romawi dimana ujung-ujungnya hanya menghasilkan penistaan tradisi budaya sendiri. Apapun itu, mari sambut gempita global ini dengan ucapan selamat tahun baru..ehm, Masehi 2013.