Perjalanan Seorang Master Ceremony Adat Bugis


KABARKAMI. Master Ceremonial atau MC adalah satu dari sekian profesi yang dapat ditekuni oleh sebagian besar orang terutama yang bergerak dibidang entertainment. Namun lain halnya dengan MC Adat dalam hal ini adat bugis. Jenis MC yang menuntut kedalaman pemahaman akan budaya ini, hingga kini masih terbilang kurang. MC Adat biasanya ditemui pada acara pernikahan dengan mengedepankan pengenalan budaya bugis. Jika pada sejumlah perhelatan dipandu dengan MC berbahasa Indonesia, MC Adat bugis dilakukan dengan menggunakan bahasa bugis klasik yang sarat makna. Pesan-pesan pribahasa bugis (Pappaseng Ogi) memberikan nuansa adat yang kuat, juga pada iringan musik khas yang menyertainya. Inilah yang tengah dilakoni oleh Suryadin Laoddang, pria berdarah bugis Sengkang yang kini menetap di kota budaya Yogyakarta.

Suaranya yang berat dengan dialek bugis yang kental menjadi trade mark pria yang juga akrab disapa Adin ini. Karirnya sebagai MC Adat melejit setelah menghadiri sedikitnya delapan puluh enam pesta nikahan adat Jawa dan Sunda sejak tahun 2000 lalu. Pertamakali terjun dalam MC Adat, ia manggung dalam acara nikahan adat Bugis di Yogyakarta, Jakarta, Bandung, Purwokerto, Solo, Boyolali, Semarang, Malang Cilacap, Surabaya bahkan hingga ke Batam. Saat didapuk menjadi MC dalam pernikahan Adat Bugis di Purwokerto yang  kebetulan dihadiri beberapa pembesar adat asal Sul-Sel dan staff dinas Pariwisata beberapa kabupaten di Sul-Sel, Adin menuai pujian. “Macuana nak monro lino, nappanna usedding engka palariwi sungeku, idi’mani” (* seumur hidupku, baru kali ini sesuatu mengharu perasaanku) puji seorang pemangku adat asal Wajo yang mengakui jika seumur hidupnya, baru kali ini ada yang mampu mengharu-birukan perasaannya, dan itu lewat MC Bahasa Bugis.

Di akhir acara, naskah MC yang jadi pegangan Adin menjadi rebutan beberapa pihak, mereka pun harus kecewa,  mendapati semua kalimat dan kata yang diucapkan sang MC ternyata tidak semua tertulis dalam naskah tersebut. Adin memandu acara tanpa teks, seolah sudah hafal dan di luar kepala. “MC seperti ini memang harus sering improvisasi, karena tatanan nikahan adat Bugis memiliki varian yang berbeda, terutama dari segi penamaan acara, warna, simbol dan ornament yang dipakai. Itu artinya seorang MC nikahan adat seperti ini memang harus mengusai juga detail budaya itu, itu idealisme saya” tegas Adin pada salah seorang tamu undangan seusai perhelatan.

Sementara itu, Dina Syarif (25) salah satu kerabat empunya hajat menuturkan “Pengusungan materi pelafalan dan pemilihan kosa-kata Bugis puitis daeng Adin, membuat kami terkesima. Ketika tiba-tiba turun hujan saat prosesi sebuah acara adat “mappacci”, ia mengurai makna hujan yang dikaitkan dengan pernikahan dalam budaya Bugis.  Pria yang juga pernah menjadi MC spesialis acara anak-anak serta instruktur MC di Yogyakarta ini tak jarang menjadi backing sound pada sejumlah iklan, film dokumenter hingga  pementasan budaya di Yogyakarta.

Ditemui di tengah diskusi budaya rutin yang digelarnya bersama Forum Kajian Budaya Sul-Sel-Bar di beberapa Asrama Mahasiswa secara bergilir di Yogyakarta, ia menuturkan bahwa ketertarikannya terhadap budaya bugis berawal sejak tamat di bangku SMA. Ketertarikan itu menjadikan pria yang dikenal tegas tapi juga “humoris” ini sangat antusias terhadap literatur budaya bugis. Hingga kini, tercatat kurang lebih 260 buah buku tentang budaya Bugis-Makassar-Mandar-Toraja-Kajang-Tolotan yang dikoleksinya. Koleksi tersebut banyak menjadi rujukan skripsi, tesis, disertasi dan karya ilmiah para pelajar di Yogyakarta dan pelajar dari beberapa kota lainnya seperti Bandung, Jakarta, Malaysia, bahkan dari Makassar sendiri. Di Yogyakarta, sosok yang dikenal anti “budaya ngaret” ini aktif di sejumlah forum budaya. Wajar, jika orang-orang di lingkungannya memanggilnya sebagai budayawan muda berbakat Sulawesi Selatan.

(Arda Wardahna – Penulis adalah lulusan Magister Ilmu Komunikasi UGM)