Mengungkap Sejarah Kelam Indonesia Tahun 1945 – 1950


main2-gerbong-maut-asliKABARKAMI. Sebuah website yaitu http://www.indonesie45-50.nl, mengungkap sejarah kelam dengan apa yang kita sebut dengan “agresi militer Belanda” atau apa yang Belanda sebut dengan “aksi ketertiban umum Belanda” di Indonesia tahun 1945 – 1950. Setelah dipendam dan ditutup-tutupi selama berpuluh tahun, isu ini menyeruak ketika beberapa foto vulgar kekejaman tentara Belanda terhadap rakyat Indonesia ditemukan di sebuah tong sampah di Enschede dan diterbitkan di harian de Volksraant (10 Juli 2012).

Media Belanda gaduh dan publik Belanda terutama generasi mudanya yang selama ini acuh menjadi terhenyak, nampak canggung dan sulit menerima kenyataan bagaimana negeri yang terkenal humanis dan progresif ini punya episode sejarah kelam dan berdarah dengan Indonesia yang belum terungkap secara jujur dan lugas.

Belanda memperingati kekejaman dan pendudukan Nazi di Belanda, tapi menutup mata terhadap kekejaman dan pendudukannya sendiri di Indonesia. Karena itu tiga insitusi berpengaruh Belanda — Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies (KITLV), Dutch Institute for Military History (NIMH) dan Institute for War, Holocaust and Genocide Studies (NIOD) mengajukan proposal untuk melakukan penyelidikan ulang episode ini. Mereka merasa berkepentingan untuk hanya menyelidiki mengapa dan bagaimana tentara Belanda bisa terlibat dalam aksi kekerasan, bukan untuk menulis ulang sejarah revolusi Indonesia — hal yang disadari sangat sensitif bagi Indonesia yang sangat bangga dengan revolusinya dan semangat nasionalisme-nya yang sampai sekarang pun bahkan masih menggebu. Namun nampaknya pemerintah Belanda masih ragu untuk memberikan dukungan politik penuh terhadap proposal penelitian itu. Pemerintah Belanda menganggap tidak perlu ada dukungan dari pemerintah Belanda dan ketiga institusi itu dengan independensinya bisa melakukan penelitian apa saja.

Tentu saja dapat dipahami episode sejarah ini sangat mengkhawatirkan dan memalukan bagi Belanda untuk dibuka ke publik — kalah perang dan kalah diplomasi dan kemungkinan diseret ke mahkamah internasional bukan hal yang ringan untuk dibicarakan secara terbuka. Bahkan hingga sekarang Belanda belum mengakui secara yuridis kemerdekaan Indonesia di tahun 1945. Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia 1945 secara “moral”. Belanda hanya mengakui secara yuridis “penyerahan kedaulatan” di tahun 1949, yang kita sendiri melihat perundingan diplomasi itu sebagai “pengakuan Belanda terhadap kedaulatan Indonesia” bukan “penyerahan kedaulatan”, karena Indonesia sudah merdeka sejak 1945. Mengakui secara yuridis punya punya implikasi yang luas buat Belanda, karena agresi militer pasca-1945 bisa dianggap sebagai serangan serius terhadap negara Indonesia yang berdaulat, dan ini tentu melanggar hukum internasional.

Kasus Rawagede dimenangkan oleh pengadilan lokal Belanda, dan pemerintah Belanda sudah meminta maaf dan mematuhi perintah pengadilan menyerahkan ganti rugi kepada beberapa sedikit janda yang masih hidup. Pengadilan kasus kekejaman Westerling masih berlanjut. Nampaknya, pemerintah Belanda mencermati dan menerima upaya-upaya hukum kasus per kasus yang dimulai oleh warga sendiri — proses hukum yang bukan dimulai oleh pemerintah Belanda.

Patut digarisbawahi bahwa untuk kasus Rawagede pun pengadilan mencatat kekerasan pemerintah Belanda kepada warganya sendiri, artinya kekerasan diakui berlangsung masih dalam wilayah Hindia-Belanda. Ada kehati-kehatian dan kalkukasi politik dan hukum dari pengadilan lokal Belanda sendiri, bahwa permintaan maaf dan ganti rugi itu harus, namun tetap berada dalam wilayah Hindia-Belanda, bukan wilayah Indonesia yang berdaulat.

Lalu bagaimana Belanda melihat peran tentara Jepang dalam episode kemerdekaan Indonesia ini? Masihkah Belanda memandang kemerdekaan Indonesia disertai restu “cap stempel” Jepang? Lalu, akankah pengakuan Belanda terhadap aksi kejinya ini bisa membantu mendorong Indonesia untuk juga turut berlapang dada mengakui kekejamannya terhadap rakyatnya sendiri pasca-kemerdekaan 1945, terutama tragedi kemanusiaan 1965? Indonesia sendiri dilanda perang saudara dan interpretasi terhadap episode sejarah ini pun di Indonesia tidak tunggal. Memang ini dua kejadian yang sangat berbeda dan terpisah, mungkin keliru tapi bukankahada kata  “violence breeds more violence” dan “peace breeds more peace”? Lalu bagaimana dampaknya terhadap hubungan diplomatik Indonesia-Belanda kini dan yang akan datang?

(sumber : Alpha Amirrachman)