“Makassar Underground”, dalam problema dan realitas


KABARKAMI, kegiatan musik underground yang berlangsung beberapa waktu lalu, di gedung veteran sao soro kanae merupakan perpaduan musik metal, deat metal, grindcore, metal core hingga punk melebur menjadi satu kesatuan yang utuh. Ratusan massa berkaroke, bebas lepas untuk menghidupkan musik bawah tanah yang larut dalam kegelapan yang bernyawa dengan iringan distorsi dan ketukan drum bak Senapan, kaliber 5,56 mm, M16 milik TNI.

 

 

Perhelatan event yang di gagas langsung oleh anak-anak makassar metal sindicate adalah upaya untuk mewadahi genre musik underground yang terbilang cukup di takuti oleh sebahagian kalangan masyarakat makassar, karena jenis musik ini dianggap sebagai sumber dari sumbu keonaran yang sering meresahkan warga sekitar. jelas, tuduhan seperti ini sangat merugikan bagi para band tersebut hingga para pembuat hajatan musik underground. jika menilik lebih jauh ke dalam, musik merupakan alat pemersatu, tanpa harus mengenal genre yang di anut bagi semua kalangan band yang ada di indonesia.

 

Makassar underground, adalah salah satu event musik yang berani membawa nama makassar sebagai daya tarik untuk lebih banyak menarik para band yang ingin terlibat langsung di dalamnya hanya untuk memuaskan dahaga agar bisa tetap eksis dalam mempertahankan idealis mereka. Sekedar mengingatkan Event bertajuk “Makassar bersatu” part I dan II, merupakan event yang harusnya berskala nasional, karena berani membawa nama makassar dan mempersembahkan 100 band dalam satu panggung dengan waktu 2 hari penuh. beda halnya dengan “Makassar Underground “, karena event ini berani menggunakan kata “Underground” dalam kegiatan yang cuman memakan waktu seharian full dengan penampilan 32 band plus tambahan amunisi dari kalimantan timur yang di daulat sebagai jawaranya tenggarong dalam genre metal core.

 

Permainan dinamis dan atraktif yang di suguhkan oleh para metal grounder dan punk beberapa waktu lalu, sukses memukau bagi para penonton yang notabene adalah penghuni setia dari jenis musik yang mereka jagokan, tanpa harus mendegradasikan idealis sesama pecandu musik
underground, mereka pun larut dalam euforia, moshing hingga headbang bersama, Walaupun mungkin dari segelintir band, terpencik kata yang kurang memuaskan bagi para panitia, tapi itulah dinamika dari musik bawah tanah. Tidak semua event yang mengatas namakan underground selalu sukses tanpa menyisakan suatu problema dalam realitas sebagai kanal acara musik bawah tanah.