Hutan Buatan Di Sulawesi Selatan


jalan Raya PohonKABARKAMI. Sulawesi Selatan memiliki hutan rakyat seluas 223.428 hektare dimana luasan tersebut merupakan 17,19% dari luas seluruh hutan rakyat di Indonesia.  Pemanfaatan lahan menjadi hutan rakyat dioptimalkan melalui pengaturan sistem jarak tanam dan pengaturan komposisi jenis tanamannya. Pemanfaatan lahan melalui hutan rakyat berpeluang untuk pengembangan tanaman pangan dengan pola agroforestri maka dengan pola tersebut berpeluang meningkatkan pendapatan masyarakat melalui perolehan hasil dari tanaman jangka pendek meliputi tanaman semusim, jangka menengah melalui tanaman sela, dan jangka panjang melalui tanaman kehutanan.

Pengelolaan hutan rakyat di Sulawesi Selatan khususnya di Kabupaten Barru, Bulukumba, dan Sidrap berpotensi dalam upaya mewujudkan ketahanan pangan melalui pemanfaatan lahannya. Selain karena potensi luas dan jenisnya, juga telah menjadi kegiatan rutin masyarakat dalam mengelola lahan.

Luas seluruh hutan di Kabupaten Barru mencapai 4.867 hektare, di mana 82% atau 3.971 hektare di antaranya telah menjadi hutan rakyat. Masyarakat memanfaatkan sebagian besar lahannya untuk hutan rakyat dengan luasan berkisar antara 0,3 – 3 hektare. Hal ini menggambarkan bahwa pengetahuan dan kesadaran masyarakat cukup tinggi dalam memanfaatkan lahan untuk hutan rakyat.  Potensi hutan rakyat didominasi tanaman jati lokal (Tectona grandis) dengan umur pohon rata-rata berkisar 10 tahun dengan potensi sebesar 226 pohon/hektare atau  volume rata-rata 4 m3/hektare. Pada tepi lahan hutan tersebut masyarakat menanam rumput gajah dan gamal yang dimanfaatkan sebagai pakan ternak.

Kabupaten Bulukumba mempunyai kawasan hutan seluas 8.453 hektare dengan hutan rakyat mencapai 72% atau seluas 22.273 hektare. Potensi hutan rakyat dikawasan ini didominasi tanaman kayu jenis sengon (Paraserianthes falcataria) yang berumur antara 5-10 tahun dengan potensi 126 pohon/hektare atau volume rata-rata 57 m3/hektare. Masyarakat juga menanam berbagai jenis tanaman perkebunan seperti kakao dan kopi serta tanaman buah-buahan seperti durian, rambutan, nangka, dan pisang, sehingga pemanfaatan lahan lebih optimal.

Sementara luas hutan rakyat di Kabupaten Sidrap mencapai 6.325 hektare. Hutan rakyatnya didominasi oleh jenis tanaman kayu mahoni (Swietenia macrophyla) yang rata-rata berumur 4 tahun dan jati lokal (Tectona grandis) yang rata-rata berumur 7 tahun. Masing-masing terdiri dari 400 dan 380 pohon/hektare dengan volume rata-rata 47 m3/hektare untuk mahoni dan 4 m3/hektare untuk tanaman jati lokal. Masyarakat juga menanam jagung sebagai sumber penghasilan alternatif sebelum panen kayu. Hal ini menggambarkan masyarakat mempunyai pengetahuan dan kesadaran dalam memanfaatkan lahan di bawah tegakan hutan rakyat.