Huruf Lontara, Replika Peradaban Kuno Bugis-Makassar


Lontara Bugis-Makassar merupakan sebuah huruf yang sakral bagi masyarakat bugis klasik. Itu dikarenakan epos la galigo di tulis menggunakan huruf lontara. Huruf lontara merupakan huruf bagi masyarakat Sulawesi Selatan untuk menuliskan kata-kata mantera dan berbagai kumpulan kisah. Dahulu kala para penyair-penyair bugis menuangkan fikiran dan hatinya di atas daun lontara dan dihiasi dengan huruf-huruf yang begitu cantik sehingga tersusun kata yang apik diatas daun lontara dan karya-karya itu bernama I La Galigo.

Bahasa ini dimasukkan ke dalam suatu rumpun bahasa melayu yang sendirinya merupakan bagian dari rumpun bahasa Sulawesi dalam cabang Melayu Polynesia dari rumpun bahasa Austronesia. Disebut huruf Lontara karena jaman dulu semua hasil tulisannya dituangkan di sebuah daun bernama “daun lontar”. Tanaman Lontar pada umumnya memang banyak tumbuh disepanjang jazirah Sulawesi Selatan.

Huruf lontara dahulunya diaplikasikan oleh cendekiawan dan kalangan bangsawan sehingga semua bentuk tulisan yang dituliskan dalam huruf lontara pada umumnya berbahasa sastra, puitis dan cenderung mistis.

Huruf Lontara diduga mengakar dari huruf Brahmi kuno dari India Seperti banyak turunan dari huruf ini, masing-masing konsonan mengandung huruf hidup “a” yang tidak ditandai. Huruf-huruf hidup lainnya diberikan tanda baca di atas, di bawah, atau di sebelah kiri atau kanan dari setiap konsonan.

Bentuk aksara lontara menurut budayawan Prof Mattulada (alm) berasal dari “sulapa eppa wala suji”. Wala suji berasal dari kata wala yang artinya pemisah/pagar/penjaga dan suji yang berarti putri. Wala Suji adalah sejenis pagar bambu dalam acara ritual yang berbentuk belah ketupat. Sulapa eppa (empat sisi) adalah bentuk mistis kepercayaan Bugis-Makassar klasik yang menyimbolkan susunan semesta, api-air-angin-tanah. Huruf lontara ini pada umumnya dipakai untuk menulis tata aturan pemerintahan dan kemasyarakatan. Naskah ditulis pada daun lontar menggunakan lidi atau kalam yang terbuat dari ijuk kasar (kira-kira sebesar lidi).

Aksara Lontara diklaim merupakan satu-satunya aksara original nusantara yang tidak mengadopsi jenis-jenis huruf atau simbol dari percampuran kebudayaan maapun. Itu sebabnya mengapa naskah asli Lontara Bugis-Makassar dirampas dan disimpan oleh Belanda sampai sekarang.

Ada sisi baik naskah-naskah asli lontara tersebut di simpan Belanda karena materialnya bisa dijaga sampai sekarang dengan standar keamanan yang sangat baik. Untuk melihat dan mempelajari naskah-naskah kuno lontara itu, Bangsa Belanda membuka lebar kesempatan terutama dari orang Bugis Makassar yang akan mempelajari budaya mereka sendiri untuk mengurai replika peradabannya. Dalam hal ini, setidaknya kebudayaan Bugis Makassar dijaga dan dipelihara oleh bangsa eropa sampai orang-orangnya sendiri mampu melakukan itu