Hubungan Kerajaan Demak dan Kerajaan Gowa


KABARKAMI. Salah satu sumber Islam menuliskan bahwa Islam mulai memasuki Indonesia sejak abad VII melalui para pedagang Arab yang telah lama berhubungan dagang dengan kepulauan Indonesia tidak lama setelah Islam berkembang di jazirah Arab. Agama Islam tersiar secara hampir merata di seluruh kepulauan nusantara seiring dengan berdirinya kerajaan-kerajaan Islam seperti Perlak dan Samudera Pasai di Aceh, kerajaan Demak, Pajang dan Mataram di Jawa Tengah, kerajaan Cirebon dan Banten di Jawa Barat, kerajaan Gowa-Tallo di Sulawesi Selatan, kerajaan Tidore dan Ternate di Maluku, kerajaan Banjar di Kalimantan, dan lain-lain.

Tahun 1512 ketika Kerajaan Samudra Pasai (Aceh) jatuh ke tangan Portugis membuat seorang keturunan raja Demak yakni Pati Unus yang pada saat itu sebagai Panglima Armada Islam tanah jawa mendesak untuk segera mengantisipasi penyebaran kolonialisme. Tahun 1513 dikirimlah armada yang mencoba masuk ke benteng Portugis di Malaka tapi gagal dan balik kembali ke tanah Jawa. Kegagalan ini karena kurang persiapan dan menjadi pelajaran berharga untuk membuat persiapan yang lebih baik. Maka direncanakanlah pembangunan armada besar sebanyak 375 kapal perang di tanah Gowa, Sulawesi Selatan yang sudah terkenal dalam pembuatan kapal.

Dalam hubungan kerajaan Demak dan Kerajaan Gowa sebelumnya mengalami proses perang sehubungan dengan penyebaran wilayah kerajaan Demak diwilayah timur Indonesia. Sebuah sumber menyebutkan bahwa dalam perang melawan ekspansi Demak, kerajaan Gowa meminta bantuan beberapa kerajaan di Sulawesi Selatan yang salah satunya adalah kerajaan bulo-bulo di kabupaten Sinjai. Disebutkan, keterlibatan kerajaan Bulo-bulo sat itu mampu menaklukkan demak dalam tempo satu hari saja, maka kerajaan gowa pun memberikan hadiah kepada kepada rajanya yaitu tahan garessie, wilayahnya mulai dari pantai jeneponto sampai Bulukumba (wilayah pembuatan kapal). Diplomasi perdamaian terjadi dengan baik karena kedua kerajaan merupakan kerajaan Islam.

Kerjasama ini memperlancar misi kerajaan Demak diperairan selat Makassar serta melengkapi armada lautnya untuk membendung agresi Portugis yang saat itu mulai memasuki wilayah timur Indonesia.

Ditemukannya sebuah makam pangeran Demak di pemakaman Islam kabupaten Sinjai mungkin bisa dihubungkan dengan kondisi pada saat itu. Sebuah sumber juga menyebutkan bahwa perahu Pangeran Demak terdampar di wilayah Kerajaan Bulo-Bulo kemudian menetap di Lamatti. Pangeran Demak itu pun lalu menyiarkan Agama Islam di wilayah tersebut. Nama pangeran Demak yang dimakamkan di kabupaten Sinjai sampai saat ini masih ditelusuri. (sumber/foto : Sempugi)