Aru, Sumpahnya Orang Gowa


Kabarkami.com - Aru (sumpah) atau angngaru(bersumpah) adalah ikrar yang diucapkan orang-orang Gowa dulu. Biasanya diucapkan oleh abdi raja kepada rajanya, atau sebaliknya, oleh raja kepada rakyatnya.

Aru dipercayai mengandung nilai magis dan religius. Makanya, aru harus diungkapkan dengan sungguh-sungguh dan harus dilaksanakan pula dengan sungguh-sungguh.

Sebagai contoh, misalnya, ketika pasukan Bontomarannu hendak pergi berperang, mereka mengucapkan aru di depan Raja Gowa bahwa mereka akan berjuang untuk mempertahankan wilayah kerajaan, membela kebenaran, dan ‘tak akan mundur selangkah pun sebelum musuh melangkahi mayatnya.

Aru pasukan Bontomarannu tersebut adalah aru tubarani, sumpahnya orang-orang berani. Berikut contohnya:

Biimillahi Rahmani Rahim

Atta…karaeng (sungguh…karaeng)
Tabe’ kipammoporang mama’ (maafkan aku)
Ridallekang labbiritta (diharibaanmu yang mulia)
Risa’ri karatuanta (di sisi kebesaranmu)
Riempoang matinggita (di tahtamu yang agung)

Inakkemi anne karaeng (akulah karaeng)
Lambara tatassallanna Gowa (satria dari tanah Gowa)

Nakareppekangi sallang karaeng (akan memecahkan kelak)
Pangngulu ri barugayya (hulu keris di arena)
Nakatepokangi sallang karaeng (akan mematahkan kelak)
Pasorang attangnga parang (gagang tombak di tengah gelanggang)

Inai-naimo sallang karaeng (barang siapa jua)
Tamappatojengi tojenga (yang ‘tak membenarkan kebenaran)
Tamappiadaki adaka (yang menantang adat budaya)

Kusalagai siri’na (kuhancurkan tempatnya berpijak)
Kuisara parallakkenna (kululuhkan ruang geraknya)

Berangja kunipatebba (aku ibarat parang yang dihantamkan)
Pangkulu kunisoeyang (kapak yang diayungkan)

Ikau anging karaeng (engkau ibarat angin karaeng)
Naikambe lekok kayu (aku ibarat daun kayu)
Mirikko anging (berhembuslah angin)
Namarunang lekok kayu (ku rela gugur bersamamu)

Iya sani madidiyaji nurunang (hanya yang kuning gugurkan)

Ikau je’ne karaeng (engkau ibarat air karaeng)
Naikambe matang mamayu (aku ibarat batang kayu)
Solongko je’ne (mengalirlah air)
Namamayu batang kayu (ku rela hanyut bersamamu)
Iya sani sompo bonangpi kianyu (di air pasang kami hanyut)

Ikau jarung karaeng (engkau ibarat jarum karaeng)
Naikambe bannang panjai (aku ibarat benang jahit)
Ta’leko jarung (menembuslah jarum)
Namminawang bannang panjai (aku akan ikut bekas jejakmu)
Iya sani lambusuppi nakontu tojeng (hanya mengikuti kebenaran)

Makkanamamaki mae karaeng (bersabdalah karaeng)
Naikambe mappajari (aku akan berbuat)
Mannyabbu mamaki mae karaeng (bertitahlah karaeng)
Naikambe mappa’rupa (aku akan berbakti)

Punna sallang takammayya (bila nanti janji tidak kutepati)
Aruku ri dallekanta (sebagaimana ikrarku di depanmu)
Pangkai jerakku (pasak pusaraku)
Tinra bate onjokku (coret namaku dalam sejarah)

Pauwang ana’ ri boko (sampaikan pada generasi mendatang)
Pasang ana’ tanjari (pesankan pada anak-cucu)
Tumakkanayya karaeng (apabila hanya mampu berikrar karaeng)
Natanarupai janjinna (tapi tidak mampu membuktikan ikrarnya)

Sikammajinne aruku ri dallekanta (demikian ikrarku dihadapanmu)
Dasi nadasi nana tarima pa’ngaruku (semoga Tuhan mengabulkannya)

Salama…(amin…)

Sumber: Buku Profil Sejarah, Budaya, dan Pariwisata Gowa, oleh Syahrul Yasin Limpo, Adi suryadi Culla, dan Zainuddin Tika.