90 Jenis Bahasa Digunakan Di Buton, Sulawesi Tenggara


kabarkami.com, Masyarakat Buton terdiri dari berbagai macam etnis yang mendiami satu wilayah dengan warisan budaya yang unik. Buton terkenal dengan peradabannya yang tinggi terbukti dari banyaknya peninggalan budaya mereka yang masih ditemukan di kota Bau-bau.

Di Buton terdapat daerah tingkat II atau region yang dikenal dengan nama Kabupaten Buton Pada awalnya Kabupaten Buton dengan ibukota Bau-bau memiliki wilayah pemerintahan adalah bekas dari Kerajaan Buton atau Kesultanan Buton, yaitu meliputi sebagian wilayah pulau Buton, sebagian wilayah pulau Muna, seluruh pulau Kabaena, sedikit bagian pulau Sulawesi, serta pulau-pulau yang ada di bagian selatan dan tenggara pulau Buton. Sekarang dengan adanya pemekaran daerah, wilayah itu terbagi menjadi beberapa wilayah kabupaten, yaitu:

1.             Kabupaten Buton

2.             Kota Bau-bau

3.             Kabupaten Wakatobi

4.             Kabupaten Bombana

 

Buton juga sangat kaya dengan warisan linguistik dan sampai saat ini terdapat  90 jenis penggunaan bahasa tradisional etnik yang berbeda-beda dari tiap suku yang mendiami wilayahnya masing-masing. Menurut masyarakatnya, penggunaan bahasa yang berbeda itu untuk menandakan asal usul suku dan tempat dominasi mereka. Pada bagian wilayah sentralnya didominasi oleh suku Wolio.

Orang-orang di Buton sebagian meyakini bahwa nenek moyang mereka telah merantau ke Maluku dan menetap disana menjadi masyarakat Ambon.

Ibukota Buton yaitu Bau-Bau menduduki peringkat ke-8 sebagai kota terbesar di Sulawesi berdasarkan jumlah populasi tahun 2010 atau urutan ke-2 untuk Provinsi Sulawesi Tenggara [2]. Hasil registrasi penduduk pada akhir tahun 2006 berjumlah 122.339 jiwa. Berdasarkan sensus penduduk tahun 2010 jumlah penduduk Kota Baubau sebanyak 137.118 jiwa, dengan kepadatan sebesar 1.113 per km², dan pertumbuhan sebesar 2,975% per tahun.